Menurut dia, tantangan terbesar terjadi pada tiga bulan pertama pembelajaran karena latar belakang dan kemampuan akademik siswa sangat beragam.
Ia menyebut terdapat siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang belum mampu membaca sehingga guru harus memberikan pendampingan intensif.
“Dia belum bisa baca. Inilah tantangan di sekolah rakyat yang harus dikerjakan oleh para guru dengan sebaik baiknya,” katanya.
Gus Ipul menuturkan guru Sekolah Rakyat dipilih melalui proses seleksi ketat sehingga mampu mendampingi siswa dengan kondisi akademik berbeda-beda.
Tahun ini terdapat lebih dari 400 siswa lulus dari Sekolah Rakyat, termasuk 11 siswa tingkat SMA yang diproyeksikan melanjutkan kuliah atau menjadi tenaga kerja terampil.
“Kalau nanti ketika ikut ujian dia lulus, maka dia pilihannya dua, mau melanjutkan ke kuliah yang akan didukung oleh pemerintah untuk mendapatkan beasiswa, atau dia mau menjadi pekerja terampil,” ujarnya.
Ia menambahkan lulusan Sekolah Rakyat juga dipersiapkan menjadi agen perubahan untuk membantu peningkatan kesejahteraan keluarga mereka di masa depan. (pah/Antara)
Jejak Negeriku BERANDA