Eddy Santana Sayangkan Banjir Masih Terjadi di Palembang











“Kemudian saya sekolah teknik sipil S2 yang jurusannya memang terkait sungai, rawa dan banjir. Sekarang saya S3, masih Kandidat. Mudah-mudahan di atas bulan Juni sudah selesai S3 saya. Jadi, aku berpengalaman di bidang manajemen sumber daya air. Bahkan waktu saya menjabat Walikota Palembang banjir diurusi dengan baik sehingga banjir hilang, tidak seperti separah sekarang ini,” paparnya.

Diungkapkannya, Kota Palembang memang termasuk daerah rendah. Tapi untuk mengantisipasi banjir yang disebabkan hujan deras pemerintah bisa meminta data dari BMKG.

“Kemudian soal pasang surut bisa minta data kepada pelayaran. Jadi semuanya kan ada datanya, sehingga saat sebelum terjadi banjir bisa diantisipasi. Jadi jangan setelah banjir baru turun dan di atasi, kalau seperti itu susah. Selain itu, daerah resapan kedepannya juga harus dipikirkan. Apalagi di kota kini jalannya dan lorongnya terbuat dari beton, aspal dan halamannya disemen. Untuk itu kedepannya jalan kecil dan lorong kita sarankan menggunakan konblok saja, sehingga ada resapan disaat hujan turun,” jelas Eddy Santana.

Lebih jauh dikatakannya, kedisiplinan warga kalau membuang sampah sembarangan juga mesti ada saksinya berdasarkan Perda.

“Misal yang buang sampah di tahan dan didenda Rp 10 juta. Kalau ada warga yang kena sanksi maka yang lain takut dan jerah membuang sampah sembarangan,” katanya.

Eddy Santana juga menyampaikan masalah pendidikan di Palembang juga menjadi permasalahan krusial.

“Tahun ajaran baru ada 500 anak tidak bisa masuk SMA Negeri, kasihan kan. Padahal kita memiliki teknologi. Misal dibelikan laptop dulu sehingga siswa yang tidak dapat kelas belajar online dulu, sambil dibangun ruang kelas. Dalam satu tahun pasti bisa. Dibidang pendidikan ini saya juga memiliki cita-cita membuat SMA IA (Intelligent Automation). Karena sekarangkan semuanya teknologi. Dimana teknologi ini kan juga bisa digunakan buat mengatasi banjir, misalnya ada alat Early Warning System yang di alatnya ada pembatas, sehingga jika banjir melewati batas akan ada bunyi. Kemudian pompa-pompa juga diterapkan menggunakan teknologi serta kamera. Dengan demikian banjir bisa diatasi karena selalu dipantau,” pungkasnya. (ded)





















About Admin JejakNegeriku.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!