
Palembang, JN
Ir Eddy Santana Putra MT, Senin (18/5/2026) menyayangkan banjir masih terjadi di Kota Palembang disaat hujan deras turun. Padahal, selama dirinya dulu menjabat dua periode Walikota Palembang masalah banjir dapat teratasi dengan baik.
Menurutnya, selama kepemimpinannya dulu sebagai Walikota Palembang, dirinya sudah membuat pengelolaan untuk mengatasi banjir, diantaranya seperti mesin-mesin pompa, yang semestinya dirawat dan ditata setelah dirinya tidak lagi menjabat Walikota Palembang.
“Dulu lah beres ini muncul lagi. Dulu (waktu masih jabat Walikota Palembang) banjir cepat hilang, karena kita tahu masalahnya dan selalu kita lakukan pembersihan serta gotong royong. Jadi, sudah ada peninggalan saya untuk atasi banjir. Tapi sepertinya tidak dilakukan pemeliharaan, dan untuk yang di jalan-jalan protokol pemeliharaannya juga kurang,” katanya.
Menurutnya, banyaknya sampah dan adanya pipa dan kabel di dekat pintu air dan mesin pompa air menjadi penyebab terjadinya banjir.
“Seperti banjir di kawasan Jalan Angkatan 45, itu karena jembatan yang mengarah ke Jalan Kapten Arivai terlalu rendah. Kemudian di dekat jembatan kan ada pompanya, dan saat saya lihat di bawahnya banyak pipa serta kabel. Karena kondisi sampah banyak hingga disaat hujan deras terjadi sampah-sampah itu menutupi jalannya air sehingga banjir terjadi,” jelasnya.
Dijelaskannya, untuk mengatasi masalah banjir di Palembang ini semestinya diselesaikan dulu terkait permasalahan sampah yang membludak.
“Jumlah warga Kota Palembang saat ini sekitar 1,5 juta lebih, yang mana satu orang perhari sampahnya bisa 0,7 Kg, sehingga tinggal dikalikan saja. Dengan jumlah sampah harian yang sangat banyak ini perlu 200 truk untuk mengakut sampah-sampah. Tapi sekarang kan jumlah truk pengangkut sampah jauh dari jumlah itu,” jelasnya.
Untuk mengatasi sampah tersebut, sambung Eddy Santana, dirinya memiliki ide dengan melibatkan peran serta masyarakat.
“Di Keramasan kan ada perusahaan yang mengelola sampah menjadi energi, ini kesempatan, misalnya warga yang membawa sampah dihargai 1 Kg sampah senilai Rp 100, yang bayarnya pihak perusahaan. Jadi selain sampah-sampah diangkut pemerintah menggunakan truk, warga juga membantu dengan menjualkan sampah itu kepada perusahaan yang mengelola sampah menjadi energi. Dengan demikian masalah sampah bisa teratasi,” terangnya.
Dijelaskannya, urusan mengatasi banjir dirinya sangat berpengalaman. Sebab sebelum menjabat sebagai Walikota Palembang dua periode dirinya bertugas di Dinas PU pada bidang perairan, irigasi yang semuanya berurusan dengan air. HALAMAN SELANJUTNYA>>
Jejak Negeriku BERANDA