Bawa Teori Waltz dan Morgenthau, Teguh Santosa Bedah Logika Realisme Politik Era Prabowo











Teguh yang juga Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia menilai situasi global saat ini memperlihatkan melemahnya sistem multilateral yang selama ini dianggap mampu menjamin stabilitas dunia.

Karena itu, menurut dia, Indonesia tidak lagi bisa menggantungkan keamanan dan kepentingan ekonominya pada kekuatan eksternal.

Ia menyebut pendekatan tersebut sejalan dengan teori realisme politik yang dikembangkan ilmuwan hubungan internasional Hans Morgenthau dan Kenneth Waltz.

“Morgenthau mengingatkan bahwa moralitas universal tidak bisa menggantikan kepentingan nasional. Negara harus mengurus dirinya sendiri terlebih dulu,” ujar Teguh.

Ia menjelaskan, Morgenthau memandang politik internasional sebagai arena perebutan kekuasaan, sehingga negara yang gagal menjaga kekuatan nasionalnya akan mudah tersingkir dalam percaturan global.

Sementara Kenneth Waltz, lanjut Teguh, melalui teori realisme struktural menilai sistem internasional bersifat anarkis karena tidak ada otoritas tunggal yang benar-benar mampu melindungi seluruh negara.

“Waltz bilang, di sistem tanpa otoritas pusat, negara tidak bisa berharap pada kebaikan negara lain. Yang bisa diandalkan hanya kemampuan sendiri,” katanya.

Menurut Teguh, logika itulah yang terlihat dalam arah kebijakan pemerintahan Prabowo yang menitikberatkan pada penguatan kapasitas domestik di sektor pangan, energi, teknologi hingga pertahanan.

Ia menyebut konsep tersebut sebagai inclusive security atau keamanan inklusif. HALAMAN SELANJUTNYA>>





















About Admin JejakNegeriku.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!