
SELAMA ini penyandang disabilitas sering dipandang sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan sosial dan menjadi beban ekonomi keluarga.
Padahal, di balik berbagai keterbatasan fisik, sensorik, maupun intelektual, mereka memiliki potensi besar untuk berkarya, bekerja, dan berkontribusi bagi pembangunan ekonomi masyarakat.
Pandangan tersebut mulai berubah melalui berbagai program pemberdayaan penyandang disabilitas yang digagas oleh organisasi kemasyarakatan bersama kalangan pengusaha di Sumatera Selatan.
Program ini tidak hanya berorientasi pada kegiatan sosial, tetapi juga bertujuan menciptakan kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas agar mampu menjadi pelaku ekonomi yang produktif. Kolaborasi antara organisasi sosial dan dunia usaha menjadi kekuatan utama program ini.
Organisasi kemasyarakatan berperan menjangkau penyandang disabilitas, memberikan pendampingan, serta membangun budaya inklusif di tengah masyarakat. Sementara itu, kalangan pengusaha membuka akses pelatihan, modal usaha, manajemen bisnis, hingga jaringan pemasaran yang memungkinkan hasil karya penyandang disabilitas dapat bersaing di pasar.
Berbagai pelatihan keterampilan diberikan sesuai kemampuan peserta. Mereka diajarkan membuat produk makanan dan minuman olahan, kerajinan tangan, aksesori hingga produk berbahan daur ulang yang memiliki nilai jual. Selain itu, tersedia pula pelatihan jasa seperti menjahit, administrasi perkantoran, keterampilan komputer, dan layanan usaha lainnya yang dapat menjadi sumber penghasilan mandiri.
Tidak hanya keterampilan teknis, peserta juga dibekali pengetahuan kewirausahaan, mulai dari pengelolaan keuangan sederhana, perhitungan biaya produksi, penentuan harga jual, hingga strategi pemasaran. Bekal ini menjadi fondasi penting agar usaha yang dirintis mampu berkembang secara berkelanjutan.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah pembinaan karakter dan mental. Program ini menanamkan pola pikir produktif, kepercayaan diri, etika kerja serta semangat kemandirian. Penyandang disabilitas didorong untuk melihat dirinya sebagai individu yang mampu berkarya dan memberi manfaat bagi lingkungan, bukan sekadar penerima bantuan. Hasilnya mulai terlihat nyata.
Banyak peserta yang kini memiliki penghasilan sendiri, membantu perekonomian keluarga, bahkan mampu menabung untuk masa depan. Sebagian di antaranya berhasil mengembangkan usaha kecil yang membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
Dampak positif program ini juga dirasakan oleh daerah. Munculnya produk-produk baru hasil karya penyandang disabilitas turut menggerakkan ekonomi lokal, memperkuat sektor usaha mikro, serta mengurangi ketergantungan terhadap bantuan sosial. Lebih dari itu, Sumatera Selatan semakin dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai inklusivitas dan pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan penyandang disabilitas membuktikan bahwa kesempatan yang setara mampu melahirkan potensi luar biasa. Disabilitas bukanlah hambatan untuk berprestasi dan berkontribusi. Dengan dukungan, pelatihan, dan kepercayaan yang tepat, penyandang disabilitas dapat menjadi kekuatan ekonomi yang turut mendorong kemajuan daerah dan bangsa.
Sudah saatnya masyarakat memandang disabilitas bukan sebagai beban, melainkan sebagai aset ekonomi bangsa yang memiliki peran penting dalam pembangunan Indonesia yang lebih inklusif dan berkeadilan. (***)
Oleh: Prof. Isnawijayani MSi, Ph.D , Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma dan Dr. Yunita Theresiana, SE, SKM,M.Kes (Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Dehansen Bengkulu). Keduanya Dewan Pakar Bakti Persada Masyarakat Sumatera Selatan.
Jejak Negeriku BERANDA