
Palembang, JN
Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr Teguh Santosa, membedah logika realisme politik yang menurutnya menjadi dasar pendekatan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi ketidakpastian global saat ini.
Analisis itu disampaikan Teguh di hadapan puluhan content creator dalam workshop yang digelar di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (16/5/2026).
Dalam paparannya, Teguh menegaskan bahwa setiap pemimpin lahir pada konteks zaman yang berbeda sehingga kebijakan yang diambil pun tidak bisa dipukul rata.
“Setiap masa memiliki tantangan yang berbeda. Pemimpin pada setiap masa itu pun mengambil kebijakan yang berbeda yang intinya adalah agar Indonesia bisa tetap survived di tengah pergolakan dunia,” ujar Teguh.
Ia kemudian membandingkan tantangan yang dihadapi empat pemimpin Indonesia di era berbeda, mulai dari Soekarno, Soeharto, B. J. Habibie hingga Prabowo.
Menurutnya, pada era Soekarno fokus utama adalah mempertahankan kemerdekaan politik di tengah perang dingin dan dekolonisasi. Sementara Soeharto dihadapkan pada tantangan stabilitas ekonomi serta integrasi nasional pasca 1965. Habibie, kata dia, harus menyelamatkan Indonesia dari krisis moneter sekaligus mengawal transisi demokrasi.
“Masuk ke era Prabowo, tantangannya berubah lagi. Dalam beberapa bulan pertama 2026 saja kita sudah menyaksikan runtuhnya sistem internasional oleh pertikaian yang melibatkan superpower,” katanya. HALAMAN SELANJUTNYA>>