Gubernur juga menekankan pentingnya kesinambungan program ini. Ia mengingatkan para pendidik agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi memastikan implementasi nyata di lapangan.
“Harus ada kelanjutan. Utamanya bagaimana implementasi di lapangan. Pelaksanaan mulok ini akan kita evaluasi setiap tiga bulan,” ujar Herman Deru.
Atas inisiatif dan dukungan konkret tersebut, Gubernur Herman Deru menerima penghargaan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI sebagai bentuk apresiasi atas komitmennya dalam memperkuat pendidikan ketahanan pangan di Sumsel. Penghargaan ini menandakan pengakuan nasional terhadap kepemimpinan Sumsel dalam bidang kemandirian pangan.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Mondyaboni, dalam laporannya menjelaskan bahwa pelaksanaan Mulok Kemandirian Pangan tidak hanya menumbuhkan kesadaran siswa terhadap pentingnya pangan, tetapi juga membentuk kebiasaan positif. “Siswa kini gemar gizi, gemar bercocok tanam, dan gemar makan sayur. Ini membentuk karakter produktif dan sehat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Mondyaboni menyampaikan bahwa program ini sejalan dengan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel dalam mewujudkan masyarakat mandiri pangan. Ia menegaskan komitmen Dinas Pendidikan untuk memperluas pelaksanaan mulok ini ke seluruh sekolah.
“Kami berkomitmen untuk meneruskan mulok ini agar siswa menjadi agen ketahanan iklim dan pangan,” tambahnya.
Apresiasi juga datang dari Direktur ICRAF Indonesia, Andree Ekadinata. Ia memuji langkah Gubernur Herman Deru yang dianggap visioner dalam mendukung kemandirian pangan berbasis pendidikan.
“ICRAF telah lebih dari dua dekade membantu berbagai provinsi di Indonesia dalam pengembangan pertanian berkelanjutan. Namun, apa yang dilakukan Sumsel ini luar biasa, karena mengintegrasikan ketahanan pangan dalam sistem pendidikan,” ungkapnya.
Andree menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memastikan ketahanan iklim dan ketahanan pangan berjalan seiring.
“Ketahanan iklim berarti kemampuan kita untuk tetap tumbuh dan bangkit di tengah perubahan iklim. Karena itu, pangan menjadi faktor utama yang harus kita jaga. Inisiatif GSMP dan Mulok Kemandirian Pangan ini patut diapresiasi karena menjadi jembatan antara kearifan lokal dan inovasi modern,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa salah satu bagian penting dari kurikulum Mulok Kemandirian Pangan adalah mendokumentasikan berbagai gerakan pangan lokal agar tidak hilang dari generasi ke generasi.
“Sumber pangan lokal sering kali diwariskan secara turun-temurun, tetapi terhambat oleh kurangnya dokumentasi. Dengan adanya mulok ini, kita bisa menjadikannya bahan pembelajaran sekaligus warisan pengetahuan bagi generasi mendatang,” ujarnya.
“Semoga Mulok Kemandirian Pangan ini menjadi model nasional yang bermanfaat sebagai bekal pendidikan karakter dan ketahanan pangan bagi generasi muda Indonesia,” tutup Andree.
Dengan peluncuran ini, Sumatera Selatan tidak hanya menjadi pelopor dalam pendidikan ketahanan pangan di Indonesia, tetapi juga mempertegas posisinya sebagai provinsi yang inovatif, visioner, dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan. Program ini menjadi bukti nyata bahwa membangun kemandirian pangan harus dimulai dari kesadaran generasi muda dari sekolah, dari sekarang. (rob)
Jejak Negeriku BERANDA