
Palembang, JN
Empat wanita hebat Sumsel yang sudah lama bersahabat sejak 20 tahun lalu rutin bertemu untuk silaturahmi dan berdiskusi. Keempat wanita tersebut yakni Prof Dr Diah Natalisa, MBA yang sebelumnya menjabat Deputi Bidang Pelayanan Publik di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) dan juga Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) Wilayah 2 atau LLDikti (Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi), Prof. Dr. Sunda Ariana, M.Pd Rektor Bina Darma Palembang, Prof. Dr. Sri Rahayu, SE.MM Guru Besar Universitas Muhammadiyah Palembang yang juga Wakil Rektor Bidang Keu ADM Pengembangan Usaha, Asset dan Teknologi Informasi, dan DR. Hj. Lishapsari Prihatini MSi Rektor STISIPOL Candradimuka Palembang.
Saat diwawancarai KoranSN, Minggu sore (8/11/2026) keempat wanita hebat Sumsel tersebut menyampaikan impian dan harapan untuk Bumi Sriwijaya kedepannya.
Prof Dr Diah Natalisa, MBA mengatakan, karena sebelumnya dirinya menjabat Deputi Bidang Pelayanan Publik di KemenPAN-RB maka ia menginginkan kedepannya pelayanan publik di Sumsel semakin baik, karena hal tersebut adalah pondasi yang sangat kuat.

“Tapi tidak bisa pemerintah sendiri, dibutuhkan kolaborasi dengan perguruan tinggi dan dunia usaha, sehingga perekonomian masyarakat berkembang pesat disaat pelayanan investasi dan pelayan publik berjalan dengan baik,” ujarnya.
Masih dikatakan Prof Diah Natalisa, dalam pertemuan rutin dirinya juga berdiskusi tentang perguruan tinggi dengan Prof. Dr. Sunda Ariana, M.Pd, Prof. Dr. Sri Rahayu, SE.MM dan DR. Hj. Lishapsari Prihatini MSi.
“Untuk perguruan tinggi ini sudah ada akreditasi dan telah diterapkan ISO, pemerintah juga sudah melakukan upaya-upaya perbaikan tata kelola, tapi skat-skat birokrasi itu harus memahami akan kebutuhan masyarakat. Jadi saat pemerintah menjalankan tugasnya dengan baik maka harus memberikan efek kepada dunia usaha, akademik. Jadi intinya konsen berdampak kepada masyarakat, dan itu tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri,” jelasnya.

Sedangkan Prof. Dr. Sunda Ariana, M.Pd Rektor Bina Darma Palembang mengatakan, dirinya mempunyai impian adanya triple helix antara akademisi, pemerintah, dunia usaha dan dunia industri yang memberikan dampak manfaat luas bagi masyarakat Sumsel.
“Perguruan tinggi ini kan ada tridarma, terdiri dari; pendidikan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk penelitian kita harapkan berdampak kepada masyarakat, seperti jika dunia usaha atau dunia industri ada masalah maka bisa diselesaikan oleh akademisi, dimana pemerintah menjadi jembatannya. Jadi peran pemerintah membantu triple helix ini, misal contohnya tentang pengurangan pajak. Jadi impian saya, penelitian akademisi dapat betul-betul berdampak ke masyarakat, dimana pemerintah membuat regulasinya,” ungkap Prof Dr Sunda Ariana.
Kemudian Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M menyampaikan impian dan harapannya tentang UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) masyarakat Sumsel kedepannya go Internasional.

“Saya terus mempromosikan UMKM Sumsel di nasional dan internasional. Kita harapkan dengan serius bahwa UMKM Sumsel kedepannya bisa naik kelas bukan hanya tingkat nasional tapi go internasional. Seperti pempek dan Songket mesti masuk pasar global. Untuk itulah dalam pertemuan ini kami berempat juga berunding tentang UMKM,” tandasnya.
Sementara DR. Hj. Lishapsari Prihatini MSi mengatakan, bicara soal Sumsel diharapkan kedepannya tidak ada jarak antara perguruan tinggi dengan kepala daerah.
“Perguruan tinggi ini bukan hanya mencetak orang-orang intelektual saja, sehingga kepala daerah jangan sampai ada jarak, mesti menerima masukan-masukan dari masyarakat. Misalnya ada demo dari anak-anak mahasiswa, demo memang tidak pernah anarkis. Tapi kalau anarkis itu tandanya tidak ada komunikasi. Contohnya, massa aksi demo mau ketemu kepala daerah tapi diwakilkan, jadi harus ada komunikasi,” ungkapnnya.

DR Hj Lishapsari Prihatini juga mengatakan soal pertemuan rutin yang dilakukannya bersama Prof Diah Natalisa MBA, Prof. Dr. Sunda Ariana, M.Pd dan Prof. Dr. Sri Rahayu, SE.MM.
“Kami berempat sudah lama kenal sejak 20 tahun lalu. Disaat Prof Diah Natalisa yang low profile ini ke Palembang beliau pasti menelpon dan mengajak kami kumpul untuk wisata kuliner sambil ngobrol santai dan berdiskusi,” tandasnya. (ded)
Jejak Negeriku BERANDA