
Jakarta, JN
Dr Ir H Heri Amalindo MM Ketua Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dinilai memiliki modal politik yang kuat dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumsel 2030 mendatang, sehingga Heri Amalindo menjadi salah satu figur yang dipandang layak diperhitungkan.
Kendati Pilgub Sumsel 2030 masih beberapa tahun lagi namun dinamika politik di Bumi Sumatera Selatan mulai memanas. Dimana selain Heri Amalindo ada juga nama Joncik Muhammad, Cik Ujang dan Devi Suhartoni selaku tokoh dengan pengalaman panjang sebagai kepala daerah dan pemimpin partai politik. Keempat nama itu masuk dalam bursa Pilgub Sumsel mendatang.
Peneliti Survei Lembaga Survei Nasional Lembaga Kajian Publik Independen (LKPI) Arianto ST SH MIKOM POL ketika dimintai analisa mengatakan, Heri Amalindo memiliki modal politik yang kuat karena pengalamannya memimpin Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) selama dua periode menjadi bekal penting dalam membangun rekam jejak kepemimpinan.
“Kini sebagai Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sumatera Selatan Heri Amalindo memiliki ruang yang lebih luas untuk memperkuat konsolidasi organisasi dan membangun jaringan politik hingga ke berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Perpaduan pengalaman pemerintahan dan kepemimpinan di partai menjadikannya salah satu figur yang dipandang layak diperhitungkan dalam dinamika menuju Pilgub Sumsel mendatang,” kata Arianto yang pernah didapuk menjadi Auditor Survei Capres Partai Demokrat ini.
Masih dikatakannya, Heri Amalindo bersama Joncik Muhammad, Cik Ujang dan Devi Suhartoni nama keempatnya sudah mulai terekam pergerakannya di dalam hasil survei. Keempat nama ini juga yang paling banyak melakukan sosialisasi dan diperbincangkan dalam dinamika politik Sumatera Selatan.
“Survei sudah merekam bahwa untuk tingkat ke dikenalan (popularitas) dan kedisukaan (akseptabilitas) dan keterpilihan (elektabilitas) bahwa keempat nama ini angkanya sama-sama cukup berimbang. Pengalaman sebagai kepala daerah, jaringan politik yang luas serta posisi strategis di partai masing-masing menjadi modal bekal penting dalam menghadapi kontestasi politik tingkat provinsi yang diperkirakan berlangsung sangat kompetitif,” jelas lelaki yang sudah 31 tahun menekuni survei perilaku pemilih di Indonesia ini dan masih menyimpan angka statistik hasil surveinya.
Pria yang juga menjabat Ketua Departemen Antar Provinsi di Perkumpulan Survei Opini Publik Indonesia (PERSEPI) ini menjelaskan, sedangkan untuk nama Joncik Muhammad juga dikenal sebagai kader militan Partai Amanat Nasional (PAN). Perjalanan politiknya yang panjang di lingkungan PAN membentuk jaringan organisasi dan komunikasi politik yang luas. Pengalamannya memimpin Kabupaten Empat Lawang, dipadukan dengan loyalitas terhadap partai dan kedekatannya dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, menjadikan Joncik sebagai salah satu figur yang memiliki basis dukungan internal yang kuat dan layak diperhitungkan dalam bursa Pilgub Sumsel.
“Joncik Muhammad memiliki jaringan yang luas baik di PAN maupun di luar PAN. Pelantikan di berbagai wilayah kabupaten dan kota serta dibarengi pembentukan relawan merupakan senjata awal dalam memperkuat jaringan untuk mendapatkan simpati hati masyarakat. Ini sudah mulai dilakukan Joncik Muhamamad,” tutur Arianto yang akrab disama Iyan yang juga mantan Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) ini.
Masih katanya, sementara nama Cik Ujang dikenal sebagai salah satu kader senior Partai Demokrat yang meniti karier politik melalui proses kaderisasi. Kiprahnya yang panjang di Partai Demokrat membawanya dipercaya menjadi Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Selatan. Pengalamannya memimpin Kabupaten Lahat selama dua periode, ditambah jaringan partai yang telah terbentuk hingga tingkat akar rumput, menjadi salah satu kekuatan politik yang dimilikinya. Konsistensi membangun organisasi dan membesarkan partai dinilai menjadi nilai tambah dalam menghadapi dinamika Pilgub Sumsel 2031.
“Cik Ujang sebagai Wakil Gubernur Sumsel sudah terlihat terjun langsung ke masyarakat. Gerakan seperti ini tentunya akan berimbas di tingkat keterkendalian dan kedisukaan terlebih dahulu,” ungkap pria yang biasa disapa dengan nama Iyan ini.
Lebih lanjut dikatakan mahasiswa doktoral FISP ini, khusus nama Devi Suhartoni merupakan politisi yang telah lama aktif dalam dunia politik dan pemerintahan. Rekam jejaknya dibangun melalui pengalaman politik dan kepemimpinan daerah, bukan secara instan. Pengalamannya memimpin Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), kedekatannya dengan masyarakat, serta kemampuannya membangun komunikasi lintas kelompok menjadi modal penting dalam memperluas dukungan politik di tingkat provinsi. Di samping itu, kader militan PDI-P tentunya akan all out mendukung Devi Suhartoni untuk menjadi pemenang di Pilkada Gubernur mendatang.
“Sebagai kader militan dan Ketua Partai PDI-P, tentunya Devi Suhartoni bisa bertarung dan memenangkan Pilkada Gubernur Sumsel mendatang. Karpet merah sudah terbentang untuk Devi Suhartoni maju Pilgub Sumsel. PDI-P diprediksi besar akan memajukan calon Gubernur Sumsel mendatang,” terangnya.
Lebih jauh dikatakannya bahwa kontestasi menuju Pilgub Sumsel 2031 berpotensi menjadi salah satu pertarungan politik paling kompetitif dalam sejarah Sumatera Selatan. Sebab keempat figur tersebut memiliki keunggulan yang berbeda, tetapi sama-sama dibangun melalui pengalaman politik dan pemerintahan yang panjang.
“Heri Amalindo membawa pengalaman memimpin daerah dan kini memperkuat posisinya melalui kepemimpinan di DPW PSI Sumatera Selatan. Keempatnya memiliki modal politik yang layak diperhitungkan apabila memutuskan maju pada Pilgub Sumsel 2031. Joncik Muhammad dikenal sebagai Kader PAN dengan jaringan organisasi yang luas dan loyalitas tinggi terhadap partai. Cik Ujang memiliki kekuatan pada struktur Partai Demokrat dan pengalaman memimpin daerah. Devi Suhartoni memiliki rekam jejak pemerintahan yang kuat serta kedekatan dengan masyarakat,” ujar lulusan terbaik Ilmu Komunikasi Politik ini.
Diungkapkannya bahwa kontestasi menuju Sumsel 1 tidak hanya ditentukan oleh popularitas dan elektabilitas, tetapi juga kemampuan membangun koalisi, menjaga soliditas partai, memperluas jaringan politik lintas daerah, serta menghadirkan program yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Perjalanan menuju 2031 masih panjang. Peta politik masih sangat dinamis dan peluang setiap tokoh akan sangat dipengaruhi oleh kinerja, konsolidasi partai, kemampuan membangun komunikasi politik, serta tingkat kepercayaan masyarakat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa empat nama ini saat ini termasuk figur yang paling sering diperbincangkan dalam percaturan politik Sumatera Selatan. Dalam hitungan matematika politik, Pilkada Sumsel tidak begitu lama dan pastinya setiap calon yang akan maju bukan secara spontan mendapatkan popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas,” tutup lelaki yang gemar memakai baju batik ini.
Dengan masih terbukanya ruang politik hingga beberapa tahun ke depan, konsolidasi partai, pembangunan jaringan, rekam jejak kepemimpinan serta sosialisasi di masyarakat menjadi kunci utama dalam meningkatkan keterpilihan. (ded)
Jejak Negeriku BERANDA